Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Januari 2013

Alquran Online

Alquran Online

Alhamdulillah saya bisa memasang widget Alquran online ini. Semoga kita dalatm membaca, memahami, dan mengamalkan kandungan Alquran tiada henti. Janji Allah yang selalu menjaga Alquran sampai akhir dunia sudah pasti. Yaitu dengan adanya orang-orang yang hafal dan fasih membaca Alquran, pembukuan, dan juga dalam bentuk digital seperti Alquran online berikut ini.




===

Senin, 17 Desember 2012

4 Indikator Orang Beriman

4 Indikator Orang Beriman

Dalam kesempatan ini marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat meninggalkan sejenak segala kegiatan dan kesibukan untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw beserta para keluarga, sahabat, dan pengikutnya.

Iman adalah sesuatu yang abstrak (bathiniyah), tetapi iman punya indicator/ ciri-ciri yang Nampak, yaitu :
1. Mengamalkan Islam;
2. Mempelajari Islam;
3. Menyebarluaskan Islam;
4. Sabar.
Hal ini bisa kita lihat dalam surat pendek yang sangat popular, yakni surat Al Ashr (103): 1-3 yang artinya : “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Ayat di atas merupakan pengertian yang dapat kita ambil bahwa da 4 (empat) cirri-ciri yang nampak pada orang yang beriman, yaitu :
1. Mengamalkan Islam
Tidak benar dikatakan orang itu imannya kuat tetapi shalat Shubuhnya kesiangan, karena shalat merupakan ukuran iman dan Islam seseorang. Maka dengan pengalaman Islam yang baik merupakan proses untuk menebalkan iman. Iman bisa menebal dan juga bisa menipis, tergantung dari perbuatannya. Iman bertambah kuat karena amaliyah yang maksimal di bulan-bulan tertentu, seperti : bulan Rajab seperti sekarang ini karena bulan Rajab termasuk salah satu 4 (empat) bulan yang dimuliakan Allah SWT.
Bulan Rajab adalah bulan mulia, maka barangsiapa berpuasa di bulan Rajab dan menghidupkan mulai malam pertama dengan beribadah, seperti : shalat tahajud, shalat tasbih, dan lain-lain, maka Allah SWT akan melimpahkan kebaikan yang sangat banyak dengan amaliyah yang baik dapat menemukan kepuasan batin. Dengan senantiasa berdoa dan memohon ampun kepada-Nya maka insya Allah dosa-dosa kita akan diampuni oleh-Nya. Sebaliknya iman akan menipis manakala sering melakukan perbuatan maksiat.
2. Mempelajari Islam
Tidak benar dikatakan imannya kuat manakala tidak mau belajar Islam, dengan ilmu insya Allah akan menemukan keyakinan Islam yang penuh. Oleh karena itu, dalam belajar tentang Islam jangan setengah-setengah, Islam mesti dimaknai secara kaffah. Orang tidak mau menerima Islam karena tidak mau mendengarkan Al Quran dan tidak mau berkata jujur. Allah berfirman dalam surat Al Mulk (67): 10 yang artinya : “Dan mereka berkata : Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.”
Terkadang manusia memperoleh informasi dari persinternasional tertentu bahwa Islam adalah revolusi, atau barangkali dalam memahami Islam hanya dari cerita yang tidak jujur. Contoh : Abu Jahal sebenarnya tahu bahwa agama yang dibawa oleh Rasulullah adalah benar, tetapi karena dia gengsi maka dia tidak mau menerima kebenaran tersebut. Dengan demikian, nyatalah bahwa ilmu agama merupakan nikmat karunia Allah yang amat besar.
Agama Islam diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah dengan misi menanamkan keimanan (aqidah), karena dengan keimanan akan mampu melahirkan kasih dan sayang di antara semua. Di sisi lain juga membekali dengan “ilmu” karena ilmu, manusia dapat memperoleh keyakinan, kemuliaan, dan derajat di sisi Allah SWT, sebagaimana firman Allah yang artinya : “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu : “Berlapanglah-lapanglah dalam majelis,” maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan : “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujadilah [58]: 11)
Juga dalam masalah ibadah, bagi orang-orang yang berilmu maka ibadahnya akan jauh lebih sempurna disbanding orang-orang yang bodoh , hal ini lantaran orang-orang yang berilmu lebih memahami dasar dan tujuan serta pengertian ibadah yang dilakukannya, sehingga kemantapan dan keyakinan ibadahnya lebih sempurna dan tidak mudah begitu saja diombang-ambingkan oleh rasa was-was yang berlebihan.
3. Menyebarluaskan Islam (amar makruf nahi mungkar)
Tidak benar dikatan imannya kuat jika melihat istri dan anak-anaknya tidak menjalankan shalat tetapi justru dibiarkan. Salah satu jalan menuju keimanan adalah amar makruf nahi mungkar, yaitu memerintahkan atau mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan mungkar dan maksiat. Mengajak kebaikan dan mencegah seseorang dari berbuat mungkar merupakan usaha usaha untuk menguatkan iman, sebaliknya jika tidak ada amar makruf nahi mungkar maka iman akan tertutup oleh kemaksiatan. Rasululah saw bersabda yang artinya : “Barangsiapa di antara kalian yang melihat suatu kemngkaran, maka hendaklah ia merubahna dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka hendaklah dengan hatinya, karena yang demikian itu iman yang paling lemah.” (HR. Muslim)
Saat ini kita hidup di era modern, zaman yang serba gemerlap, banyak sekali orang yang hanya mementingkan kehidupan dunia saja. Jika sudah demikian, maka sudah tentu banyak orang yang akhirnya terjerumus ke lembah dosa, padahal mereka tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah perbuatan dosa. Suasana seperti inilah yang mengharuskan kita untuk beramar makruf nahi mungkar sebagai upaya untuk menebar kebaikan dan membendung kemaksiatan agar tidak semakin merajalela. Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran (3): 104 yang artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajian, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”
4. Sabar
Tidak benar orang dikatakan imannya kuat tetapi mudah marah, karena marah merupakan cermin dari orang yang imannya kurang kuat. Rasulullah saw bersabda yang maksudnya :
“Kamu jangan marah (diulang oleh Rssulullah sampai 3 kali), karena marah tidak ada manfaatnya, bahkan membawa madharat bagi orang lain." Ada ulama yang mengatakan bahwa awal marah seperti orang gila dan akhirnya dia akan menyesal, misalnya : marah kepada anak lalu memukul, kemudian si anak masuk rumah sakit sehingga menghabiskan biaya besar dan akhirnya menyesal.
Di samping itu, manusia harus sabar dalam menghadapi 3 (tiga) hal, yakni : 1) Sabar dalam menghadapi bencana; 2) Sabar berbuat taat; 3) Sabar dalam menjauhi perbuatan maksiat. Ibnu Mubarok pernah berkata : “Bencana itu satu, jika orang yang terkena bencana itu bersusah hati maka hakekatnya bencana itu menjadi dua, yaitu : bencana itu sendiri dan hilangnya pahala bersabar.” Begitu juga dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi perbuatan maksiat dengan sabar dan ikhlas, maka Allah akan selalu menyertai mereka yang senantiasa bersabar.

Semoga kita termasuk golongan orang yang beriman, karena mereka adalah orang-orang yang telah dijanjikan oleh Alah dengan kehidupan yang penuh kenikmatan dan rahmat yaitu “surga”. Amin.

Buletin Jumat Al-Wustho
Edisi : 712
Tanggal : 1 Juni 2012 M / 11 Rajab 1433 H
Oleh : Drs. H. Ali Mu’thi Abror (Ketua KBIH “MULTAZAM”)
Penerbit : Takmir Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang
Alamat : Menara Masjid Raya Baiturrahman Jl. Pandanaran No. 126 Simpanglima, Semarang, Jawa Tengah

Senin, 10 Desember 2012

Rumah Tangga yang Surgawi

Rumah Tangga yang Surgawi

Dengan mensyukuri nikmat Allah biqauli “alhamdulillah” karena Allah SWT masih berkenan memberikan kesempatan hidup kepada kita dengan harapan sisa usia yang tidak tahu kapan diminta kembali oleh Allah SWT ini, tentu tidak hanya memiliki sukses dunia saja, seperti : cukup sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan, tetapi lebih jauh kita memohon kejadirat-Nya agar sisa usia hidup ini memiliki prestasi ibadah kepada-Nya.

Allah SWT telah menegaskan di dalam firman-Nya Surat At Tin (95): 4 yang artinya : “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk “lahir tumekaning batin”, predikat ini harus mampu kita pertahankan sampai kapanpun. Maka untuk mempertahankannya dengan modal “ittaqu-Allah” (takwa kepada Allah).

Dalam perjalanan hidup agar kita bisa menyaksikan negeri ini dengan predikat “baldatun thoyyibatun wa Rabbun ghofur”, gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo maka hal ini tidak lepas dari minatur sebuah “keluarga”. Oleh karena itu Allah SWT memberikan pedoman untuk membangun sebuah mahligai rumah tangga yang “sa’adah ad daroini” (bahagia di dunia dan akhirat) yang dalam istilah Al Qur’an disebut dengan “mawaddah wa rahmah” (cinta dan kasih sayang).

Dengan semangat untuk mencapai mawaddah wa rahmah ini, kita diharapkan untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT di manapun dan kapanpun kita berada. Inilah yang kemudian di dalam Al Qur’an ditegaskan keluarga yang akan dinantian surge Allah semata-mata atas ridha-Nya adalah bangunan keluarga yang di dalamnya ada fungsi, tidak hanya untuk menyalurkan libido seksual antara pria dan wanita semata, tetapi lebih jauh “libtigha’i mardhatillah” (mengharap ridha Allah SWT). Allah SWT berfirman yang artinya : “Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al Furqan [25]: 74). Ayat tersebut menggambarkan cita-cita dalam membina mahligai rumah tangga supaya tercipta keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah di kehidupan yang serba maju dan modern ini.

Adalah fungsi sebuah keluarga yang oleh Allah mendapatkan legitimasi terangkat citra kehidupan masayarakat dalam berbangsa dan bernegara karena keluarga harus memiliki fungsi keagamaan, motivasi pernikahan yang dibangun bukan sekedar ikatan negosiasi guna mencapai kesuksesan duniawiyah, tetapi substansi perjalanan kekeluargaan ini adalah sebagaimana sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang artinya : “Nikah adalah sunnahku, siapa yang tidak senang kepada sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” Ini mengandung arti sebuah proses untuk memasukkan nilai-nilai religiusitas kita sebagai manusia, yang oleh ahli psikologi bernama Sigmond Freud mengatakan bahwa : “Manusia lebih berhasrat menyalurkan libido seksual” (keinginan untuk menumpahkan hawa nafsu).

Oleh karenanya, pernikahan yang dilandasi dengan “aqdun nikah”, maka motivasi utamanya adalah mengikuti sunnah Rasulullah saw. Adalah sebuah penyelamat dalam hidup ini, ketika sudah terjadi transaksi dalam kehidupan berumah tangga dimana tujuannya bukan semata-mata untuk menyelesaikan seks, tetapi lebih jauh sebagaimana disebutkan dalam Surat Ar Rum (30): 21 yang artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnyapada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Tujuan dari pernikahan sebagaimana ayat tersebut adalah “litaskunu ilaiha wa ja’ala bainakum mawaddatan wa rahmatan”, guna memperoleh stabilitas temperature batin sehingga tercipta rasa cinta dan kasih saying/ istiqamah, yang oleh Ronggowarsito dinyatakan : “jamane jaman edan, yen ora ngedan jare ora bakal keduman, hananging bejaning wong sing bejo yoiku wong sing tansah eling, ngati-ati, lan waspodo.”

Inilah orientasi akhir bagi orang-orang yang berfikir bahwa keluarga adalah sebuah penyelamat dalam rangka memperoleh ridha Allah SWT dan mengikuti sunnah Rasulullah saw karena di dalamnya banyak mengandung unsure ibadah yang bisa mencerminkan, merefleksikan, dan sekaligus mendapatkan pahala dari Allah SWT. Keluarga yang dirindukan oleh surga adalah bagaimana kita mampu memfungsikan cinta dan kasih saying itu secara benar dalam kehidupan kita sehari-hari, sebagai contoh : Taj Mahal di India adalah persembahan buah cinta dan kasih sayang suami kepada istrinya, sehingga sampai sekarang bangunan tersebut menjadi fenomenal dan mendunia. Cinta adalah sebuah motivasi untuk menciptakan karya terbaik, bukan justru untuk merusak tatanan kehidupan bermasyarakat.

Dengan cinta dan kasih sayang semata-mata libtigha’i mardhatillah yang dimulai dari keluarga, antar sesama, dan lingkungan di sekitar kita maka insya Allah akan mampu menghantarkan bangsa dan negara ini menjadi “baldatun thoyyibatun wa Rabbun ghofur.” Orientasi keduniawian bukanlah tujuan utama, tetapi bagaiman kita mampu menciptakan kesejahteraan bagi alam semesta ini melalui cinta dan kasih sayang sesuai apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw dan atas petunjuk Allah SWT.

Agar tercipta kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia ini adalah dengan membangun rasa “khusnudzan” di antara sesama, menjaga lingkungan, dan saling menghormati di antara sesame. Di tengah kehidupan yang serba modern ini maka fungsi keluarga sangat menentukan ke mana arah dan tujuan hidup ini ditentukan. Peristiwa yang terjadi di tanah air sungguh menyayat hati, salah satunya adalah kenakalan remaja sebagai generasi penerus bangsa ini sangat tidak mencerminkan jiwa dan semangat bangsa Indonesia, mengapa hal ini terjadi? Atau jangan-jangan ini terjadi bermula dari skup kecil yakni “keluarga” yang salah arah dalam mendidik putra-putri kita dengan menanamkan hal-hal yang berorientasi pada material dan hedonistic semata. Wallahu ‘alam.

Alangkah baiknya, mari kita bermuhasabah (mawas diri) kenapa hal itu bisa terjadi. Bekal akhlakul karimah hendaknya kita tanamkan kepada putra-putri kita sejak dini, sejak masih di alam kandungan lewat pengenalan tentang alunan ayat-ayat Allah sampai dia lahir, tumbuh menjadi anak-anak, remaja, dewasa harus terus kita lakukan agar di masa yang akan datang tercipta generasi yang salih dan salihah.

Sebagai penghujung, Rasulullah saw menjelaskan bahwa keluarga berfungsi sebagai perisai dalam kehidupan ini, oleh karenanya perjalanan panjang hidup yang tidak tahu kapan kita diminta kembali oleh Allah ini, mari kita jadikan keluarga kita yang ternaungi dengan ruh semangat keikhlasan menjadi sebuah miniature yang diridhai Allah SWT, suami diinspirasikan menjadi ustadz, istri sebagai ustadzah, anak-anak menjadi santri, modal kejujuran dalam rumah dijunjung tinggi, rasa kebersamaan dan kerja sama dijalin dengan baik sehingga tercipta kolaborasi yang solid. Jika hal ini mampu kita lakukan, maka insya Allah harapan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah akan terwujud.

Semoga Allah SWT menganugerahkan keluarga kita menjadi keluarga yang dirindukan oleh surga Allah SWT, sebagaimana firman-Nya yang artinya : “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr [89]: 27-30)

Demikian, semoga ada hikmah dan manfaatnya. Amin Allahumma Amin.

Buletin Jumat Al-Wustho
Edisi : 711
Tanggal : 25 Mei 2012 M / 4 Rajab 1433 H
Oleh : Drs. H. Ahmad Anas, M. Ag. (Dosen Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang)
Penerbit : Takmir Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang
Alamat : Menara Masjid Raya Baiturrahman Jl. Pandanaran No. 126 Simpanglima, Semarang, Jawa Tengah

Moslemotivasi: Berani Kaya, Berani Takwa

Moslemotivasi: Berani Kaya, Berani Takwa

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Al-Hakim diceritakan: Suatu ketika Nabi Muhammad Saw memanggil ‘Amar bin Ash. Beliau bermaksud menyuruhnya memakai baju besi dan membawa senjata. Ketika ‘Amar sudah datang, Nabi menatapnya dan berkata, “Aku mengutusmu pergi berekspedisi di mana kau akan mendapatkan banyak harta rampasan, dan kau akan kembali dengan selamat, kuharap kau kembali membawa banyak harta (harta rampasan itu).”
‘Amar menjawab, “Wahai Rasulullah! Aku memeluk Islam bukan untuk memperkaya diri! Melainkan, karena semangat mulia Islam!”
Nabi menjawab, “O ‘Amar! Sungguh terpuji, harta yang suci itu bagi orang-orang yang saleh!”

Kemudian dalam hadis yang lain Rasulullah juga bersabda, “Tidak ada madarat (kerusakan, bahaya) dalam harta bagi mereka yang bertakwa.” (HR. Ibnu Majjah)

Apa yang bisa kita ambil dari dua hadis di atas? Sesungguhnya Rasulullah Saw tidak merasa tabu jika ngomong soal harta, uang, atau duit! Ini perting sekali karena kebanyakan kita masih merasa tabu ngomong soal uang, atau paling tidak kita merasa risih dan merasa tidak etis jika ngomong soal duit. Kita takut dicap materialistik. Lebih merasa tabu lagi kalau soal duit itu dikaitkan dengan persoalan dakwah dan persoalan ketakwaan yang berbau-bau agama. Padahal jelas-jelas Rasulullah berkata pada ‘Amar bin Ash, “Kuharap kau kembali membawa harta banyak.”

Hal itu bukan berarti Rasulullah materialistis. Tapi Rasulullah sadar betul bahwa perjuangan Islam membutuhkan biaya yang tidak ssedikit. Dalam sebuah perjuangan dibutuhkan biaya. Jer basuki mawa beya, kata falsafah Jawa. Tanpa harta yang memadai susah sekali kita menjaga muru’ah kita dalam berdakwah memperjuangkan agama Islam. Ya. Bagaimana kita bisa menjaga muru’ah (kehormatan) Islam jika untuk membangun pesantren, membangun masjid, dan membangun sarana-sarana infrastruktur Islam dengan cara, maaf, “mengemis-ngemis”. Sepatutnya kita prihatin dan malu, betapa banyak saudara-saudara kita seiman yang “mengemis-ngemis” di teriman-terminal, di bus-bus, di kereta api, bahkan ada yang door to door untuk membangun sarana ibadah. Mereka jual murah ayat-ayat Allah dengan kocek-kocek recehan. Murah sekali harga diri kita! Padahal Rasulullah tidak pernah mengajari kita “mengemis-ngemis”, untuk membangun masjid sekalipun. “Seorang pemberi itu lebih baik ketimbang meminta-minta.” Sabda Rasulullah lantang.

Uang atau harta itu penting agar kita bisa beribadah dengan tenang. Bagaimana Anda bisa shalat dengan tenang kalau perut Anda lapar, kalau anak Anda menangis terus minta susu, sementara Anda tak kuat membelinya. Bagaimana Anda bisa bersedekah, menyantuni fakir miskin, berhaji ke baitullah dan menyekoahkan anak Anda untuk menuntut ilmu kalau Anda tak punya uang sama sekali, tak punya harta sama sekali.

Kaya itu lebih enak, karena itulah jangan miskin, apalagi suka miskin. Apa sih enaknya jika Anda miskin? Menjadi miskin itu berat. Berbicara tidak dihargai. Ada barang tetangga hilang dituduh mencuri. Dolan ke rumah tetangga disangka minta sumbangan. Menghadiri kondangan dikira mencari makanan. Begitu seterusnya. Karena itulah, mulai saat ini, katakana pada diri Anda bahwa Anda tidak boleh miskin. Anda harus kaya. Umat Islam harus kaya. Yang kaya tapi berwibawa. Yang kaya tapi bersahaja. Yang kaya tapi bertakwa. Yang kaya tapi dermawan. Itulah yang dicontohkan Rasulullah dan nabi-nabi terdahulu, seperti Nabi Ayyub, Sulaiman, Ibrahim, dan Yusuf, semuanya kaya.

Jadi tak ada salahnya jika kita memupuk kekayaan sebanyak-banyaknya, asalkan disertai niat tulus dan cara yang halal dalam memperolehnya. Sebab, harta kekayaan amat sangat berguna untuk menopang hidup dan ibadah kita. Bukankah dengan kelebihan harta, kita bisa lebih mantap menepaki jalan Allah? Dalam konteks inilah Rasulullah Saw bersabda, “uang itu hijau dan lezat (seperti buah yang masak), maka bagi siapa yang mengambilnya dengan benar, niscaya ia menjadi ertolongan besar baginya!” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Subhanallah! Realistis sekali sabda Rasulullah itu, uang sangat memikat hati siapa pun. Tidak pebisnis, tidak pegawai/ karyawan, tidak presiden, tidak rakyat jelata, tidak gali, tidak juga kiai. Semua butuh uang. Semua senang kalau diberi uang. Semua senang melihat uang. Benar, uang itu lezat. Uang itu hijau, segar, dan membutakan mata siapa saja (yang tidak beriman). Anda mungkin pernah mendengar istilah, “uang bikin mata orang hijau.” Itulah uang, sekali kita tak tahu ilmu menaklukkannya, kita akan dihajar habis-habisan.

Karena itu, ambillah uang itu dengan benar. Ketahui ilmunya. Miliki kecerdasan uang atau kecerdasan finansial. Siapa pun Anda harus paham itu. Ingat, uang tak kenal siapa tuannya. Uang tak pandang bulu. Uang tak kenal iman. Ia bisa merayu siapa saja. Ia bisa menggoda siapa saja. Pelajari seni menaklukkannya, dan gaetlah ia dengan benar. Sebab, ketika Anda mampu menaklukkannya dan menggaetnya dengan benar, kata Rasul, “Anda akan memperoleh pertolongan yang besar!”

Sama sekali tidak ada kebohongan dalam sabda Rasul itu. Uang yang diraih dengan benar dan halal, apalagi dalam jumlah yang berlimpah, ia akan mendatangkan pertolongan yang besar. Anda bisa membayar seluruh hutang Anda. Hidup Anda memjadi lebih tenang. Anda bisa membahagiakan istri, anak, keluarga, dan sahabat-sahabat Anda. Anda bisa berinfak dan bersedekah. Anda bisa membangun pesantren Anda, membangun panti asuhan anda, membangun masjid Anda tanpa harus mengemis dengan menjual ayat-ayat Allah di bus-bus maupun di jalan-jalan. Anda akan memperoleh kewibawaan, kehormatan, dan dicintai banyak orang. Sesungguhya Islam itu mulia dan elegan, maka harus ditegakkan dengan cara-cara yang mulia dan elegan pula. Jangan sebaliknya.

Kalau anda miskin, bagaiman Anda bisa berdakwah dengan mulia dan elegan. Mungkin hati Anda memang baik, mulia, dan mau berdakwah dalam arti sesungguhnya, tapi karena Anda miskin, bagaimana sikap orang terhadap dakwah Anda: “Ah… ujung-ujungnya paling-paling mau minta sumbangan untuk membangun masjid dan pesantren,” kata mereka menggerutu. Tapi coba kalau Anda kaya raya. Materi Anda sudah melimpah karena bisnis Anda yang pesat, kemudian Anda mau berdakwah, bersahaja pula, orang-orang pasti takzim pada Anda. Subhanallah.

Mengingat begitu urgennya uang dan harta, wajar sekali bila Rasulullah Saw terbiasa memohon rakmat Allah berupa rizki yang cukup dan memohon perlindungan Allah dari kemiskinan. Dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh Abu Dawud dan ImamAhmad, disebutkan bahwa Rasulullah selalu berdoa memohon perlindungan dari kemiskinan dan kekufuran sebanyak tiga kali setiap matahari terbit dan terbenam. Doa Rasulullah: “Duhai Allah! Aku memohon perlindungan-Mu dari kemiskinan dan kekufuran. Aku juga memohon perlindungan-Mu dari siksa kubur. Tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Engkau, ya Allah.” Bukan cuma itu doa Rasulullah, menurut riwayat Imam Muslim, beliau sebelum tidur selalu menutup hari dengan membaca dia sebagai berikut: “Ya Allah! Lunasilah hutang-hutangku dan jauhkanlah aku dari kemiskinan.”

Dalam cara pandang sebagaimana saya (Ustadz Rich) ilustrasikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ssesungguhnya, spirit yang bisa kita tangkap dari ajaran Rasulullah ialah, hendaknya kita berani kaya dan berani meniti jalan-Nya (bertakwa). Siapkah Anda menggunakan spirit itu dalam kehidupan anda? Insya Allah!

Buletin Jumat Motivasi Pesantren-Bengkel Akhlak “Ikhwah Rasulullah”
Edisi :
Oleh : Ustadz Rich, Phd. (Penulis Buku Megabestseller Rasulullah’s Busines School)
Alamat : Jl. Patemon Raya No. 18A Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah
Telp : 024-86455511
Email : ikhwahrasul@yahoo.com
Website : www.ikhwahgroup.com

Jumat, 07 Desember 2012

Moslemotivasi: Berani Berinfak di Jalan Allah

Moslemotivasi: Berani Berinfak di Jalan Allah

Ada tiga macam infak yang utama dalam Islam. Dua di antara ketiga hal itu adalah wajib (dengan syarat-syarat tertentu), dan salah satunya adalah sunnah. Dua hal yang wajib itu adalah zakat (yang diberikan pada macam-macam persediaan tertentu, hasil pertanian, uang, dan pokok-pokok bisnis) dan zakat fitrah (yang diberikan pada akhir bulan Ramadhan sebagai penebusan dosa untuk dosa-dosa yang dilakukan selagi puasa). Secara terperinci tentang dua macam zakat ini bisa ditemukan dalam kitab-kitab fikih. Adapun yang sunnah, lebih dikenal dengan sebutan shadaqah (sedekah).

Ketiga macam infak itu di dalam Islam dikatakan sebagai “penginfakan harta di jalan Allah”. Jadi, ketika Anda membayar zakat pada orang miskin, atau membantu membangun sebuah masjid, atau membantu sebuah sekolah Islam, atau bertanggung jawab atas kesejahteraan orang-orang cacat, janda-janda, atau murid-murid yang menuntut ilmu, sesunguhnya semua itu adalah amalan keberania Anda dalam berinfak di jalan Allah. Dan infak itu seharusnya semata-mata demi memperoleh keridhaan Allah.

Ada banyak peristiwa dalam Alquran dan Assunnah yang membuktikan bahwa menginfakkan harta di jalan Allah adalah penyebab langsung melimpahnya rizki/ kekayaan seseorang. Simaklah firman Allah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya berikut ini :
“Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda, “Allah telah berfirman : ‘Wahai anak Adam! Infakkanlah hartamu, Aku akan menambah hartamu!’.”

Firman Allah dalam hadis di atas menunjukkan bahwa tidak masalah berapa banyak uang / harta yang kamu infakan di jalan Allah, Allah pasti akan menggantinya di dunia ini dengan ganti harta/ uang yang lebih banyak, dan di akhirat dibalas dengan balasan yang setimpal. Tidak hanya setimpal, bahkan lebih berlipat-lipat.

Rasulullah Saw. benar-benar telah berjanji bahwa amal sedekah tidak akan mengurangi uang seseorang, sebagaimana telah dinyatakan dalam hadisnya,
“Ada tiga hal, aku berjanji tentang tiga hal itu (bahwa ketiga hal itu benar) dan aku akan menceritakannya padamu, maka ingat-ingatlah! Uang tidak akan pernah berkurang karena amal sedekah. Tidak akan ada seorang pun yang berbuat salah manakala ia sabar, kecuali Allah akan menamba kemuliaanya, dan tidak ada seorang pun yang meminta rizki/ uang pada orang lain, kecuali Allah akan memiskinkannya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)

Dalam hadis yang lain, Rasulullah Saw. kembali bersabda,
“Tidak ada satu hari pun seorang hamba yang bangun kecuali dua malaikat turun (dari surga). Salah satu dari malaikat itu berkata, ‘Ya Allah! Berilah ganti pada orang yang menginfakan (pada apa yang ia infakkan.’ Dan malaikat yang satunya mengatakan,’Ya Allah! Berilah seseorang yang menahan (uangnya) dengan kehancuran!’.” (HR. Bukhari)

Dalam hadis yang lain, kita ditunjukkan oleh kepedulian Rasulullah Saw. terhadap para sahabatnya agar banyak berinfak di jalan Allah. Simak saja misalnya sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Suatu hari Rasulullah Saw. berkata pada Bilal,”Hai Bilal, infakkan hartamu! Dan janganlah engkau takut kemiskinan dari Tuhan Pemilik ‘Arsy!”. (HR. Baihaqi)

Dengan kata lain, infakkanlah harta Anda di jalan Allah, dan jangan menyangka bahwa Allah, Zat Pemilik ‘Arsy akan membiarkan kemiskinan pada hidup Anda jika Anda rajin menginfakkan harta Anda di jalan-Nya. Bukankah Allah Zat Yang Maha Kaya (Al-Ghaniy). Dialah yang mencukupi kebutuhan-kebutuhan hanmba-Nya? Dialah Zat yang menyediakan hewan-hewan, burung-burung, dan ikan-ikan untuk hamba-Nya? Maka apa lagi yang engkau ragukan dengan janji Rasulmu, bahkan Tuhanmu?

Tidak hanya hadis-hadis di atas yang menunjukkan janji Allah pada orang –orang yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya. Masih ada ayat yang membuktikan bahwa menginfakkan harta di jalan Allah menambah kekayaan seseorang. Dalam QS. Al-Baqarah (2): 268 Allah berfirman,
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan ampunan daripada-Nya dan karunia yang melimpah. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Menafsiri ayat tersebut, Ibnu Abbas berkata, “Dalam ayat itu ada dua hal. Dua dari Allah dan dua dari setan. ‘Setan menjanjikan kemiskinan bagi Anda’ dengan memberitahukan kepada Anda, ‘Jangan infakkan/ sedekahkan harta Anda! Anda sesungguhnya lebih membutuhkannya!’. Setan juga memerintahkan Anda ‘dengan perbuatan-perbuatan yang keji, jahat, dan kikir.’ Sedangkan Allah ,menjanjikan ampunan-Nya pada Anda atas dosa-dosa yang Anda lakukan.’ Allah juga menjanjikan ‘karunia-Nya pada Anda dengan menambah rizki Anda!’.”

Senada dengan Ibnu Abbas, Syaikhul Islam, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengingatkan kita, bahwa setan berjanji membuat Anda semakin miskin, bukan karena dia bersimpati pada Anda, Bulan pula karena dia ingin kabaikan pada Anda! Melainkan ingin semakin ingin menjauhkan Anda dari jalan Allah dengan kemiskinan Anda. Adapun Allah ingin Anda selalu diampuni-Nya dan dikaruniai rizki, nikmat, dan karunia yang berlimpah-limpah. Subhanallah!

Dengan penjelasan-penjelasan di atas, masihkah Anda meragukan bahwa dengan berani berinfak di jalan Allah, Anda akan semakin kaya raya?


Buletin Jumat Motivasi Pesantren-Bengkel Akhlak “Ikhwah Rasulullah”
Edisi :
Oleh : Ustadz Rich, Phd. (Penulis Buku Megabestseller Rasulullah’s Busines School)
Alamat : Jl. Patemon Raya No. 18A Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah
Telp : 024-86455511
Email : ikhwahrasul@yahoo.com
Website : www.ikhwahgroup.com