Tampilkan postingan dengan label infak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label infak. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Desember 2012

Moslemotivasi: Berani Kaya, Berani Takwa

Moslemotivasi: Berani Kaya, Berani Takwa

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Al-Hakim diceritakan: Suatu ketika Nabi Muhammad Saw memanggil ‘Amar bin Ash. Beliau bermaksud menyuruhnya memakai baju besi dan membawa senjata. Ketika ‘Amar sudah datang, Nabi menatapnya dan berkata, “Aku mengutusmu pergi berekspedisi di mana kau akan mendapatkan banyak harta rampasan, dan kau akan kembali dengan selamat, kuharap kau kembali membawa banyak harta (harta rampasan itu).”
‘Amar menjawab, “Wahai Rasulullah! Aku memeluk Islam bukan untuk memperkaya diri! Melainkan, karena semangat mulia Islam!”
Nabi menjawab, “O ‘Amar! Sungguh terpuji, harta yang suci itu bagi orang-orang yang saleh!”

Kemudian dalam hadis yang lain Rasulullah juga bersabda, “Tidak ada madarat (kerusakan, bahaya) dalam harta bagi mereka yang bertakwa.” (HR. Ibnu Majjah)

Apa yang bisa kita ambil dari dua hadis di atas? Sesungguhnya Rasulullah Saw tidak merasa tabu jika ngomong soal harta, uang, atau duit! Ini perting sekali karena kebanyakan kita masih merasa tabu ngomong soal uang, atau paling tidak kita merasa risih dan merasa tidak etis jika ngomong soal duit. Kita takut dicap materialistik. Lebih merasa tabu lagi kalau soal duit itu dikaitkan dengan persoalan dakwah dan persoalan ketakwaan yang berbau-bau agama. Padahal jelas-jelas Rasulullah berkata pada ‘Amar bin Ash, “Kuharap kau kembali membawa harta banyak.”

Hal itu bukan berarti Rasulullah materialistis. Tapi Rasulullah sadar betul bahwa perjuangan Islam membutuhkan biaya yang tidak ssedikit. Dalam sebuah perjuangan dibutuhkan biaya. Jer basuki mawa beya, kata falsafah Jawa. Tanpa harta yang memadai susah sekali kita menjaga muru’ah kita dalam berdakwah memperjuangkan agama Islam. Ya. Bagaimana kita bisa menjaga muru’ah (kehormatan) Islam jika untuk membangun pesantren, membangun masjid, dan membangun sarana-sarana infrastruktur Islam dengan cara, maaf, “mengemis-ngemis”. Sepatutnya kita prihatin dan malu, betapa banyak saudara-saudara kita seiman yang “mengemis-ngemis” di teriman-terminal, di bus-bus, di kereta api, bahkan ada yang door to door untuk membangun sarana ibadah. Mereka jual murah ayat-ayat Allah dengan kocek-kocek recehan. Murah sekali harga diri kita! Padahal Rasulullah tidak pernah mengajari kita “mengemis-ngemis”, untuk membangun masjid sekalipun. “Seorang pemberi itu lebih baik ketimbang meminta-minta.” Sabda Rasulullah lantang.

Uang atau harta itu penting agar kita bisa beribadah dengan tenang. Bagaimana Anda bisa shalat dengan tenang kalau perut Anda lapar, kalau anak Anda menangis terus minta susu, sementara Anda tak kuat membelinya. Bagaimana Anda bisa bersedekah, menyantuni fakir miskin, berhaji ke baitullah dan menyekoahkan anak Anda untuk menuntut ilmu kalau Anda tak punya uang sama sekali, tak punya harta sama sekali.

Kaya itu lebih enak, karena itulah jangan miskin, apalagi suka miskin. Apa sih enaknya jika Anda miskin? Menjadi miskin itu berat. Berbicara tidak dihargai. Ada barang tetangga hilang dituduh mencuri. Dolan ke rumah tetangga disangka minta sumbangan. Menghadiri kondangan dikira mencari makanan. Begitu seterusnya. Karena itulah, mulai saat ini, katakana pada diri Anda bahwa Anda tidak boleh miskin. Anda harus kaya. Umat Islam harus kaya. Yang kaya tapi berwibawa. Yang kaya tapi bersahaja. Yang kaya tapi bertakwa. Yang kaya tapi dermawan. Itulah yang dicontohkan Rasulullah dan nabi-nabi terdahulu, seperti Nabi Ayyub, Sulaiman, Ibrahim, dan Yusuf, semuanya kaya.

Jadi tak ada salahnya jika kita memupuk kekayaan sebanyak-banyaknya, asalkan disertai niat tulus dan cara yang halal dalam memperolehnya. Sebab, harta kekayaan amat sangat berguna untuk menopang hidup dan ibadah kita. Bukankah dengan kelebihan harta, kita bisa lebih mantap menepaki jalan Allah? Dalam konteks inilah Rasulullah Saw bersabda, “uang itu hijau dan lezat (seperti buah yang masak), maka bagi siapa yang mengambilnya dengan benar, niscaya ia menjadi ertolongan besar baginya!” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Subhanallah! Realistis sekali sabda Rasulullah itu, uang sangat memikat hati siapa pun. Tidak pebisnis, tidak pegawai/ karyawan, tidak presiden, tidak rakyat jelata, tidak gali, tidak juga kiai. Semua butuh uang. Semua senang kalau diberi uang. Semua senang melihat uang. Benar, uang itu lezat. Uang itu hijau, segar, dan membutakan mata siapa saja (yang tidak beriman). Anda mungkin pernah mendengar istilah, “uang bikin mata orang hijau.” Itulah uang, sekali kita tak tahu ilmu menaklukkannya, kita akan dihajar habis-habisan.

Karena itu, ambillah uang itu dengan benar. Ketahui ilmunya. Miliki kecerdasan uang atau kecerdasan finansial. Siapa pun Anda harus paham itu. Ingat, uang tak kenal siapa tuannya. Uang tak pandang bulu. Uang tak kenal iman. Ia bisa merayu siapa saja. Ia bisa menggoda siapa saja. Pelajari seni menaklukkannya, dan gaetlah ia dengan benar. Sebab, ketika Anda mampu menaklukkannya dan menggaetnya dengan benar, kata Rasul, “Anda akan memperoleh pertolongan yang besar!”

Sama sekali tidak ada kebohongan dalam sabda Rasul itu. Uang yang diraih dengan benar dan halal, apalagi dalam jumlah yang berlimpah, ia akan mendatangkan pertolongan yang besar. Anda bisa membayar seluruh hutang Anda. Hidup Anda memjadi lebih tenang. Anda bisa membahagiakan istri, anak, keluarga, dan sahabat-sahabat Anda. Anda bisa berinfak dan bersedekah. Anda bisa membangun pesantren Anda, membangun panti asuhan anda, membangun masjid Anda tanpa harus mengemis dengan menjual ayat-ayat Allah di bus-bus maupun di jalan-jalan. Anda akan memperoleh kewibawaan, kehormatan, dan dicintai banyak orang. Sesungguhya Islam itu mulia dan elegan, maka harus ditegakkan dengan cara-cara yang mulia dan elegan pula. Jangan sebaliknya.

Kalau anda miskin, bagaiman Anda bisa berdakwah dengan mulia dan elegan. Mungkin hati Anda memang baik, mulia, dan mau berdakwah dalam arti sesungguhnya, tapi karena Anda miskin, bagaimana sikap orang terhadap dakwah Anda: “Ah… ujung-ujungnya paling-paling mau minta sumbangan untuk membangun masjid dan pesantren,” kata mereka menggerutu. Tapi coba kalau Anda kaya raya. Materi Anda sudah melimpah karena bisnis Anda yang pesat, kemudian Anda mau berdakwah, bersahaja pula, orang-orang pasti takzim pada Anda. Subhanallah.

Mengingat begitu urgennya uang dan harta, wajar sekali bila Rasulullah Saw terbiasa memohon rakmat Allah berupa rizki yang cukup dan memohon perlindungan Allah dari kemiskinan. Dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh Abu Dawud dan ImamAhmad, disebutkan bahwa Rasulullah selalu berdoa memohon perlindungan dari kemiskinan dan kekufuran sebanyak tiga kali setiap matahari terbit dan terbenam. Doa Rasulullah: “Duhai Allah! Aku memohon perlindungan-Mu dari kemiskinan dan kekufuran. Aku juga memohon perlindungan-Mu dari siksa kubur. Tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Engkau, ya Allah.” Bukan cuma itu doa Rasulullah, menurut riwayat Imam Muslim, beliau sebelum tidur selalu menutup hari dengan membaca dia sebagai berikut: “Ya Allah! Lunasilah hutang-hutangku dan jauhkanlah aku dari kemiskinan.”

Dalam cara pandang sebagaimana saya (Ustadz Rich) ilustrasikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ssesungguhnya, spirit yang bisa kita tangkap dari ajaran Rasulullah ialah, hendaknya kita berani kaya dan berani meniti jalan-Nya (bertakwa). Siapkah Anda menggunakan spirit itu dalam kehidupan anda? Insya Allah!

Buletin Jumat Motivasi Pesantren-Bengkel Akhlak “Ikhwah Rasulullah”
Edisi :
Oleh : Ustadz Rich, Phd. (Penulis Buku Megabestseller Rasulullah’s Busines School)
Alamat : Jl. Patemon Raya No. 18A Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah
Telp : 024-86455511
Email : ikhwahrasul@yahoo.com
Website : www.ikhwahgroup.com

Jumat, 07 Desember 2012

Moslemotivasi: Berani Berinfak di Jalan Allah

Moslemotivasi: Berani Berinfak di Jalan Allah

Ada tiga macam infak yang utama dalam Islam. Dua di antara ketiga hal itu adalah wajib (dengan syarat-syarat tertentu), dan salah satunya adalah sunnah. Dua hal yang wajib itu adalah zakat (yang diberikan pada macam-macam persediaan tertentu, hasil pertanian, uang, dan pokok-pokok bisnis) dan zakat fitrah (yang diberikan pada akhir bulan Ramadhan sebagai penebusan dosa untuk dosa-dosa yang dilakukan selagi puasa). Secara terperinci tentang dua macam zakat ini bisa ditemukan dalam kitab-kitab fikih. Adapun yang sunnah, lebih dikenal dengan sebutan shadaqah (sedekah).

Ketiga macam infak itu di dalam Islam dikatakan sebagai “penginfakan harta di jalan Allah”. Jadi, ketika Anda membayar zakat pada orang miskin, atau membantu membangun sebuah masjid, atau membantu sebuah sekolah Islam, atau bertanggung jawab atas kesejahteraan orang-orang cacat, janda-janda, atau murid-murid yang menuntut ilmu, sesunguhnya semua itu adalah amalan keberania Anda dalam berinfak di jalan Allah. Dan infak itu seharusnya semata-mata demi memperoleh keridhaan Allah.

Ada banyak peristiwa dalam Alquran dan Assunnah yang membuktikan bahwa menginfakkan harta di jalan Allah adalah penyebab langsung melimpahnya rizki/ kekayaan seseorang. Simaklah firman Allah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya berikut ini :
“Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda, “Allah telah berfirman : ‘Wahai anak Adam! Infakkanlah hartamu, Aku akan menambah hartamu!’.”

Firman Allah dalam hadis di atas menunjukkan bahwa tidak masalah berapa banyak uang / harta yang kamu infakan di jalan Allah, Allah pasti akan menggantinya di dunia ini dengan ganti harta/ uang yang lebih banyak, dan di akhirat dibalas dengan balasan yang setimpal. Tidak hanya setimpal, bahkan lebih berlipat-lipat.

Rasulullah Saw. benar-benar telah berjanji bahwa amal sedekah tidak akan mengurangi uang seseorang, sebagaimana telah dinyatakan dalam hadisnya,
“Ada tiga hal, aku berjanji tentang tiga hal itu (bahwa ketiga hal itu benar) dan aku akan menceritakannya padamu, maka ingat-ingatlah! Uang tidak akan pernah berkurang karena amal sedekah. Tidak akan ada seorang pun yang berbuat salah manakala ia sabar, kecuali Allah akan menamba kemuliaanya, dan tidak ada seorang pun yang meminta rizki/ uang pada orang lain, kecuali Allah akan memiskinkannya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)

Dalam hadis yang lain, Rasulullah Saw. kembali bersabda,
“Tidak ada satu hari pun seorang hamba yang bangun kecuali dua malaikat turun (dari surga). Salah satu dari malaikat itu berkata, ‘Ya Allah! Berilah ganti pada orang yang menginfakan (pada apa yang ia infakkan.’ Dan malaikat yang satunya mengatakan,’Ya Allah! Berilah seseorang yang menahan (uangnya) dengan kehancuran!’.” (HR. Bukhari)

Dalam hadis yang lain, kita ditunjukkan oleh kepedulian Rasulullah Saw. terhadap para sahabatnya agar banyak berinfak di jalan Allah. Simak saja misalnya sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Suatu hari Rasulullah Saw. berkata pada Bilal,”Hai Bilal, infakkan hartamu! Dan janganlah engkau takut kemiskinan dari Tuhan Pemilik ‘Arsy!”. (HR. Baihaqi)

Dengan kata lain, infakkanlah harta Anda di jalan Allah, dan jangan menyangka bahwa Allah, Zat Pemilik ‘Arsy akan membiarkan kemiskinan pada hidup Anda jika Anda rajin menginfakkan harta Anda di jalan-Nya. Bukankah Allah Zat Yang Maha Kaya (Al-Ghaniy). Dialah yang mencukupi kebutuhan-kebutuhan hanmba-Nya? Dialah Zat yang menyediakan hewan-hewan, burung-burung, dan ikan-ikan untuk hamba-Nya? Maka apa lagi yang engkau ragukan dengan janji Rasulmu, bahkan Tuhanmu?

Tidak hanya hadis-hadis di atas yang menunjukkan janji Allah pada orang –orang yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya. Masih ada ayat yang membuktikan bahwa menginfakkan harta di jalan Allah menambah kekayaan seseorang. Dalam QS. Al-Baqarah (2): 268 Allah berfirman,
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan ampunan daripada-Nya dan karunia yang melimpah. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Menafsiri ayat tersebut, Ibnu Abbas berkata, “Dalam ayat itu ada dua hal. Dua dari Allah dan dua dari setan. ‘Setan menjanjikan kemiskinan bagi Anda’ dengan memberitahukan kepada Anda, ‘Jangan infakkan/ sedekahkan harta Anda! Anda sesungguhnya lebih membutuhkannya!’. Setan juga memerintahkan Anda ‘dengan perbuatan-perbuatan yang keji, jahat, dan kikir.’ Sedangkan Allah ,menjanjikan ampunan-Nya pada Anda atas dosa-dosa yang Anda lakukan.’ Allah juga menjanjikan ‘karunia-Nya pada Anda dengan menambah rizki Anda!’.”

Senada dengan Ibnu Abbas, Syaikhul Islam, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengingatkan kita, bahwa setan berjanji membuat Anda semakin miskin, bukan karena dia bersimpati pada Anda, Bulan pula karena dia ingin kabaikan pada Anda! Melainkan ingin semakin ingin menjauhkan Anda dari jalan Allah dengan kemiskinan Anda. Adapun Allah ingin Anda selalu diampuni-Nya dan dikaruniai rizki, nikmat, dan karunia yang berlimpah-limpah. Subhanallah!

Dengan penjelasan-penjelasan di atas, masihkah Anda meragukan bahwa dengan berani berinfak di jalan Allah, Anda akan semakin kaya raya?


Buletin Jumat Motivasi Pesantren-Bengkel Akhlak “Ikhwah Rasulullah”
Edisi :
Oleh : Ustadz Rich, Phd. (Penulis Buku Megabestseller Rasulullah’s Busines School)
Alamat : Jl. Patemon Raya No. 18A Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah
Telp : 024-86455511
Email : ikhwahrasul@yahoo.com
Website : www.ikhwahgroup.com