Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Oktober 2012

Konser Musik



Semua kalangan pasti suka , baik muda maupun tua, baik anak-anak hingga dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Apalagi yang masih abg pasti menggilai beberapa aliran  terutapa  pop baik lagu-lagu dalam maupun luar negeri. Nah apalagi kalau ada konser / pertunjukan , memang seru kalau kita ikuti. Beberapa jam sebelum pertunjukan music dimulai pasti sudah dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menontonnya. Seberapa banyak penonton memang dapat menentukan seberapa besar kesuksesan penyelenggaraan acara tersebut.

Di luar hal tersebut yang patut kita cermati adalah para penonton khususnya yang beragama Islam. Karena ingin menoton acara musik, mereka rela datang berjam-jam lebih awal untuk dapat tempat paling depan yang dekat dengan panggung pertunjukan. Apa yang patut kita cermati dari hal tersebut? Yang utama yang harus kita cermati adalah shalat wajib 5 waktu. Dengan keinginan untuk dapat menonton baik di barisan depan, tengah, atau belakang mereka datang berjam-jam sebelum acara dimulai. Misal, acara dimulai pukul 19:00, mereka akan datang pukul 16:00. Tentu bila mereka tetap di area penonton karena tidak mau tempat mereka diambil orang lain, maka akan melewatkan waktu shalat Maghrib. Ya tentu saja berbeda dengan mereka yang dengan akalnya dan imannya kuat, meluangkan waktu untuk shalat Maghrib terlebih dahulu. Tidak terkecuali bagi mereka penonton, penyelenggara, dan juga pengisi acara yang beragama Islam. Tentu juga berbeda jika acara dimulai pukul 09:00 dan mereka para penonton datang pukul 07:00.

Ya semoga tidak terjadi hal yang sedemikian itu karena hal itu merupakan kebobrokan moral dan iman orang Islam. Dan saya menghimbau khususnya penyelenggara acara pertunjukan music agar dapat memilah waktu agar hal demikian tidak perlu terjadi dan harus ikut bertanggung jawab dunia akhirat bila hal itu sampai terjadi.

Minggu, 11 April 2010

Dangdut Bernuansa Erotisme

Dangdut, ya itulah aliran musik khas Indonesia, asli Indonesia. Irama lagunya membuat para penikmat musik dangdut tidak akan bosan. Tapi apa permasalahannya di sini? Ya, goyangan para penyanyinya, khususnya penyanyi wanita yang benar-benar kelewat batas, menyalahi aturan/norma agama dan norma susila. Penyanyi wanita inipun dikhususkan lagi, yaitu para penyanyi wanita pendatang baru yang terbilang masih musda(yang mungkin di luar merka yang ikut ajang menyanyi dangdut). Dengan sesuka mereka bernyanyi dengan pakaian yang minim tak pelak juga pakaian yang ketat dan seksi, mereka meliuk-liukkan tubuh mereka tanpa memperhatikan para penonton.

Apakah mereka hanya berfikir dia bernyanyi, beraksi di atas panggung, dan nantinya dapat komisi? Saya rasa tidak. Dan apakah mereka berdalih itu semua mereka lakukan atas permintaan, desakan para penonton dan mengatasnamakan seni? Picik sekali pemikiran mereka. OK, kalau mereka “bergoyang sedemikian rupa”, fine jika yang menonton itu orang dewasa semua. Nah, kalau ada anak kecil? Tidaklah bermoral mereka (penyanyi) itu. Malah mereka dengan sengaja bergoyang serta mendekati ke arah anak-anak kecil tersebut dengan terus dan terus bergoyang (berita TV).


“Innalillahi, Astagfirullah”, saya ucapkan untuk moralitas mereka mereka. Mengapa saya ucapkan begitu? Ya, mereka acuh tak acuh terhadap norma susila, norma hokum, bahkan norma agama. Di mana pemerintah, di mana kepolisian, di mana aksi masyarakat terhadap erotisme yang menyertai, membonceng dangdut? Bagaimana kepolisian membiarkan hal tersebut? Ayo pemerintah, ayo kepolisian Indonesia jangan diberi izin bagi acara-acara yang terindikasi ada erotisme di dalamnya. Bubarkan acara yang mengandung erotisme walau mungkin banyak penonton yang kecewa marah kepada kepolisian, tangkap pelaku erotisme, tangkap dan atau denda bagi penyelenggara karena hal tersebut sudah termasuk perkara yang meresahkan masyarakat.


Selain karena erotisme, yang saya sayangkan dari kebanyakan penyanyi, kebanyakan acara TV bahkan show antar desa,banyak lagu aliran pop itu dipaksa didangdutkan padahal kedengarannya kurang pantas kurang enak didengar



Opini ini saya buat bukan semata-mata saya tidak suka dangdut, bahkan sebaliknya saya menyukainya. Semoga para insan dangdut tetap jaya di hati masyarakat di Indonesia bahkan dunia. Amin.